Dari Rumah Rasulullah Saw,ditunjuklah Uswatun Hasanah (contoh yang baik) sebagai pemimpin yang patut kita simak dan ambil pelajaran,
Sebagai seorang pemimpin rumah tangga disamping tugas-tugas penting lainnya,Rasulullah SAW adalah suami yang penuh dengan tanggung jawab,membawahi,melindungi dan mengayomi isteri-isterinya dengan adil dan bijaksana.
Sebagaimana tertera pada sebuah riwayat,Aswad RA mengatakan bahwa ;
''Saya telah bertanya kepada Aisyah RA apa yang biasa dilakukan Rasulullah SAW dirumah,
Aisyah menjawab ; Beliau senantiasa perhatian terhadap keluarga dan apabila tiba waktu shalat,beliau bersegera melakukan shalat''
,(Bukhari,Kitaabul Adzan).
Penuturan Aisyah,bahwa Rasulullah adalah orang yang paling lembut kepribadiannya,Ketika dirumah beliau merupakan sosok tanpa basa basi,tidak pernah mengerutkan muka dan selalu tersenyum,
Sepanjang kehidupan beliau,Rasulullah tidak pernah memukul isteri-isteri beliau dan tidak pernah memukul pelayan-pelayannya dan juga tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan
(Syamaail Tirmidzi,Baab Maajaa fi Khuluqi Rasulillah SAW).
Rasulullah SAW adalah sosok yang paling sibuk dan paling tekun dalam beribadah,Tapi,lihatlah bagaimana beliau menjalani bahtera rumah tangga,beliau begitu cekatan dalam membantu isterinya dalam sehari-hari,
Bahkan dihadapan para sahabat,dengan bangga Rasulullah SAW bersabda ; ''Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluarga atau isterinya'', dan beliau bersabda ;''Saya dari antara kalian adalah orang yang memperlakukan paling baik terhadap keluarganya''.
(Tirmidzi,Kitaabul Manaaqib),
Meskipun beliau begitu,bukan berarti selama menjalani bahtera keluarga Rasulullah SAW luput dari masalah problematika,
Bayangkan saja beliau (Rasulullah SAW) memiliki sebelas orang isteri,dua orang dari mereka meninggal semasa beliau hidup,yaitu Khadijah binti Khuwailid dan Zaenab binti Khuzaimah yang dijuluki Ummul Masakin yang berarti Ibu orang-orang miskin.
Meskipun beliau memiliki sebelas isteri,tak satupun yang mengalami kecemburuan,karena Rasulullah membagi cinta dan kasih sayang penuh keadilan,
Kendati pun demikian,Isteri Nabi toh juga manusia biasa yang tak luput dari tabiat kewanitaannya,ingin mendapatkan perhatian lebih dari yang lainnya,Dan Rasulullah SAW mampu memperlakukan isteri-isterinnya sebagaimana yang telah disyariatkan Allah SWT.
Hak dan kewajiban terlaksana sesuai syariat aturan dan keadilan,Kewajiban memberi nafkah pun beliau kerjakan sendiri tanpa meminta bantuan kepada isterinya dan sahabatnya,
Sedangkan hak isterinya pun beliau berikan penuh cinta dan keikhlasan,
Dalam suatu riwayat diceritakan,suatu hari Aisyah pernah bertanya tentang siapa isteri beliau yang paling dicintai,Beliau tidak menyebutkan nama melainkan memberi isyarat bahwa isteri yang paling dicintai adalah yang menerima cincin darinya,ketika itu semua isteri-isterinya pun berdo'a semoga dirinya nanti malam yang akan dikasih cincin oleh beliau.Dan apa yang diprediksi isteri-isterinya pun benar,karena mereka yang mengharapkan dikasih cincin oleh suaminya (Rasulullah SAW) betul-betul dikasih.
Namun ada satu yang tidak mereka ketahui,yaitu Rasulullah SAW memberikan cincin dengan cara mendatangi satu persatu isterinya.
Disinilah letak keadilan Rasulullah SAW dalam membina keluarga.